MODEL
PEMBELAJARAN KESEIMBANGAN DALAM PEMBELAJARAN LUAS TRAPESIUM BERDASARKAN TEORI
BELAJAR GAGNE
Oleh
Reno Widayati
(5C PGSD IKIP
PGRI SEMARANG)
Abstrak
Geometri
menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika sekolah, karena banyaknya
konsep yang termuat di dalamnya dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bangun
datar merupakan salah satu bagian dari materi geometri, salah satu bentuk
bangun datar adalah trapesium. Namun, bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa
pemahaman siswa mengenai materi trapesium masih rendah. Banyak siswa yang masih
mengalami kesulitan dalam memahami materi bangun trapesium. Untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan siswa, cara yang dapat ditempuh adalah penerapan model
pembelajaran keseimbangan berdasarkan teori belajar Gagne.
Kata Kunci: pembelajaran,
geometri, trapesium, teori Gagne
PENDAHULUAN
Geometri digunakan oleh setiap orang dalam kehidupan
sehari-hari. Ilmuwan, arsitek, artis, insinyur, dan pengembang perumahan adalah
sebagian kecil contoh profesi yang menggunakan geometri secara reguler. Dalam
kehidupan sehari-hari, geometri digunakan untuk mendesain rumah, taman, atau
dekorasi (Van de Walle, 1990:269). Usiskin (1987:26-27) mengemukakan bahwa
geometri adalah (1) cabang matematika yang mempelajari pola-pola visual, (2)
cabang matematika yang menghubungkan matematika dengan dunia fisik atau dunia
nyata, (3) suatu cara penyajian fenomena yang tidak tampak atau tidak bersifat
fisik, dan (4) suatu contoh sistem matematika (Abdussakir,2011).
Salah satu bagian dari geometri yang sering dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari adalah bangun datar. Banyak sekali bentuk-bentuk bangun
datar, salah satunya adalah trapesium.
Dalam pembelajaran bangun trapesium sendiri banyak ditemui
kendala antara lain, kesulitan siswa dalam mengidentifikasi sifat-sifat bangun trapesium,
cara menghitung luas trapesium juga memiliki kesulitan karena banyaknya
bentuk-bentuk trapesium dari yang simetris maupun yang tidak simetris, pendekatan
pembelajaran yang digunakan kurang mendorong minat siswa terhadap proses
pembelajaran, pemilihan alat peraga, pemecahan masalah dalam penyelesaian soal
latihan yang kurang jelas, yang pada intinya masalah terbesar ada pada model
pembelajaran yang digunakan. Oleh karena itu, muncul pertanyaan model
pembelajaran apakah yang sesuai untuk diterapkan pada pembelajaran pengukuran
luas trapesium agar kesulitan dan kendala dalam pembelajaran dapat
terselesaikan?
Oleh karena itu, penulis merancang sebuah model pembelajaran
yang penulis namakan model pembelajaran keseimbangan. Model pembelajaran
keseimbangan penulis rancang berdasarkan teori belajar Gagne.
Menurut Gagne seperti yang dikutip oleh Worrel dan Stilwell
(1981) cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang
dipunyainya dan keterampilan serta hierarki apa yang diperlukan untuk
mempelajari suatu tugas. Gagne berpendapat bahwa di dalam proses belajar
terdapat dua fenomena yaitu, keterampilan intelektual yang meningkat sejalan
dengan meningkatnya umur serta latihan yang diperoleh individu dan belajar akan
lebih cepat apabila strategi kognitif dapat dipakai dalam memecahkan masalah
secara lebih efisien (Yoeti Soekamto, 1996:30).
Gagne (1985) menyebutkan adanya lima macam hasil belajar,
yaitu: keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan
motorik, dan sikap. Teori belajar yang disusun oleh Gagne merupakan perpaduan
yang seimbang antara behaviorisme dan kognitivisme, yang berpangkal pada teori
proses informasi (Yoeti Soekamto, 1996:30).
Menurut Gagne belajar tidak merupakan sesuatu yang terjadi
secara alamiah, tetapi hanya akan terjadi dengan adanya kondisi-kondisi
tertentu, yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal. (Yoeti Soekamto,
1996:30).
Mengacu pada pendapat Gagne tersebut model pembelajaran yang
penulis rancang bertujuan agar proses pembelajaran siswa dapat mengembangkan
keterampilan yang memang sudah dimiliki dengan latihan-latihan serta
menciptakan kondisi-kondisi belajar yang sedemikian rupa sehingga pemahaman
siswa terhadap materi luas trapesium dapat terjadi secara maksimal.
PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN
KESEIMBANGAN
A.
Sintakmatik
- Pendahuluan
-
Pada
tahap pendahuluan guru membimbing siswa untuk menghubungkan antara apa yang
dipelajari dengan apa yang pernah dipelajari atau apa yang diketahui dari
pengalamannya.
-
Guru
menyampaikan tujuan belajar yang harus dicapai, ini merupakan hal yang paling
penting karena siswa harus tahu untuk apa mereka belajar.
- Perubahan
-
Guru
menciptakan situasi yang benar-benar baru, yang memberikan kesempatan pada
siswa untuk dapat mengembangkan strategi kognitifnya.
-
Guru
memberikan latihan-latihan kepada siswa berupa kegiatan untuk mengembangkan
keterampilan motoriknya. Guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengadakan latihan atau praktek namun
jangan sampai membuat siswa merasa lelah.
-
Guru
harus sering memberikan pengulangan-pengulangan mengenai materi agar siswa
dapat terus mengingat, tetapi perlu diingat pemilihan waktu pengulangan juga
penting agar siswa tidak terlalu bosan.
-
Guru
menambahkan pengetahuan-pengetahuan mengenai materi yang tidak ada di buku.
-
Guru
memberikan tugas serta mengawasi setiap siswa pada saat mengerjakan tugas. Hal
tersebut agar guru dapat memantau perkembangan siswa secara individu.
-
Guru
memberikan penguatan setiap kali siswa menunjukkan sikap yang diinginkan.
- Penutup
-
Guru
memberikan umpan balik kepada siswa, dapat berupa koreksi, nasehat, dan lain
sebagainya.
-
Guru
memberikan tugas rumah.
B.
Prinsip Reaksi
-
Guru
merancang sebuah kondisi belajar yang nyaman bagi siswa dan menyiapkan sumber belajar atau alat peraga yang dapat merangsang anak
berpikir dan tidak sekedar menghafal.
-
Siswa
belajar untuk tidak menghafal, tetapi harus memahami masalah dan memecahkan
masalah.
-
Guru
memberikan latihan-latihan yang dapat mengembangkan keterampilan intelektual,
strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap siswa.
-
Siswa
banyak melakukan latihan. Tetapi, walaupun latihan yang diberikan kepada semua
siswa sama, hasil yang diperoleh akan berbeda karena keterampilan yang dimiliki
setiap individu berbeda.
C.
Sistem Sosial
Pada model pembelajaran ini memang
akan terlihat perbedaan yang mencolok antara kemampuan masing-masing individu,
namun peran guru dalam hal itu sangatlah penting untuk memperkecil kemungkinan
munculnya kelompok-kelompok yang muncul di dalam kelas agar tidak ada kelompok
atau individu yang merasa terintimidasi. Walaupun pada dasarnya model
pembelajaran ini mendorong perkembangan individu, namun tetap harus didasarkan
pada persamaan derajat, kerjasama dan kebebasan intelektual.
D.
Sistem Pendukung
Sarana yang diperlukan untuk
melaksanakan model ini adalah tempat belajar yang nyaman, alat-alat peraga dan
media pembelajaran yang relevan dengan materi, guru yang terampil mengelola
kelas, serta segala sesuatu yang dibutuhkan siswa untuk melakukan proses
belajar, seperti alat tulis, buku, dan lai-lain.
E.
Dampak Instruksional dan Dampak
Pengiring
Dampak
Instruksional:
- Pengembangan pengetahuan, keterampilan akademis, keterampilan motorik, dan keterampilan pengelolaan diri.
- Keterampilan dalam memecahkan masalah.
Dampak
Pengiring:
- Penghargaan terhadap hak asasi manusia.
- Toleransi.
- Kemampuan mengatasi perubahan-perubahan.
- Sikap saling menghargai.
- Respon emosional dan perilaku.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KESEIMBANGAN DALAM
PEMBELAJARAN LUAS TRAPESIUM
1.
Pendahuluan
-
Pada
tahap pendahuluan guru terlebih dahulu menggali informasi apa yang telah
diketahui siswa mengenai trapesium. Guru memancing siswa untuk menyebutkan
benda yang berbentuk trapesium seperti atap rumah dan lain-lain.
-
Guru
menyampaikan tujuan belajar yang harus dicapai, yaitu siswa dapat menghitung
luas trapesium dengan benar.
2.
Perubahan
-
Guru
memberi instruksi kepada siswa untuk menyimpan terlebih dahulu barang atau
benda selain alat tulis dan buku berpetak.
-
Guru
menyajikan berbagai gambar trapesium. Dalam buku siswa trapesium hanya dua
bentuk, yaitu trapezium sama kaki dan trapesium siku-siku. Oleh karena itu guru
harus memberi informasi kepada siswa bahwa trapesium memiliki berbagai bentuk.
-
Siswa
diberi tugas untuk menggambar trapesium sama kaki, siku-siku dan sembarang.
Kemudian guru memberitahukan kepada siswa bahwa sebuah bangun harus diberi nama
dan bagaimana cara penulisan nama pada sebuah bangun datar.
-
Guru
memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber tentang
bagian-bagian dari trapesium dan simbol matematikanya.
-
Guru
memberikan instruksi-instruksi yang mengarah pada bagaimana cara mencari luas,
tetapi guru perlu menegaskan bahwa dalam mencari luas trapesium dapat dilakukan
melalui berbagai cara tidak hanya dengan menggunakan satu cara.
-
Guru
memberi tugas siswa mencari cara lain untuk menghitung luas trapesium.
-
Guru
membimbing siswa untuk menentukan rumus dalam menghitung luas trapesium.
-
Guru
memberikan latihan-latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan.
-
Guru
memberikan penguatan setiap kali siswa menunjukkan sikap yang diinginkan.
-
Guru
memberikan pengulangan-pengulangan tentang bagaimana langkah mencari luas
trapesium? Dan lain sebagainya.
- Penutup
-
Guru
memberikan umpan balik kepada siswa, dapat berupa koreksi, nasehat, dan lain
sebagainya. Misalnya, guru dan siswa bersama-sama mengorksi hasil pekerjaan
siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan, kemudian guru memberikan koreksi
apa yang kurang, bagaimana yang benar, dan harus seperti apa.
-
Guru
memberikan tugas rumah berupa soal-soal yang berkaitan dengan luas trapesium.
SIMPULAN
Untuk membantu mengatasi kesulitan siswa dalam menghitung
luas trapesium diperlukan suatu strategi, metode, dan bahkan teori pembelajaran
yang sesuai. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model
pembelajaran keseimbangan sesuai teori belajar Gagne. Suatu karakteristik dari
teori belajar Gagne adalah teori ini memandang siswa dari segi kognitif dan behaviornya. Dengan demikian,
pengorganisasian pembelajaran, isi, dan materi merupakan faktor penting. Guru
memegang peran penting dalam menciptakan kondisi belajar yang nyaman sehingga
siswa dapat memahami materi dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Walgito, Bimo.2004.Pengantar Psikologi Umum Ed. IV.Yogyakarta:ANDI
Yogyakarta.
Soekamto, Yoeti dan Udin Saripudin Winataputra.1996.Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran.Pusat
antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional
Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Abdussakir.2011. Pembelajaran
Geometri Sesuai Teori Van Hiele. Artikel dimuat dalam El-Hikmah:
Jurnal Kependidikan dan Keagamaan, Vol VII Nomor 2, Januari 2010, ISSN
1693-1499. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang.